MAJALAH TEMPO

Majalah Tempo edisi kali ini menyoroti beberapa hal penting seperti PALANGAN POLITIK JENDERAL GATOT. Resmi pensiun beberapa waktu yang lalu, Gatot belum mendeklarasikan diri bakal maju dalam pemilihan presiden tahun depan. Walau belum berterus terang akan berlaga, Gatot sudah memiliki tim pengelola media sosialnya. Meski tingkat keterpilihannya masih rendah, namanya hampir selalu mengekor Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Gatot berfikir “Politik itu harus sabar, politik itu cair”. Gatot sendiri mengatakan akan Blakblakan soal rencana politiknya mulai April ini. NYANYIAN SETENGAH HATI SETYA. Jaksa KPK menuntut Setya Novanto 16 tahun penjara dan menolak permohonan justice collabor-nya. Menurut Jaksa, perbuatan dan keterangan bekas Ketua DPR  itu belum memenuhi ketentuan Undang-Undang Perlindungan Saksi dan Korban serta Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2011 tentang whistleblower dan justice collaborator misalnya Setya dianggap belum signifikan membongkar kejahatan proyek yang merugikan negara Rp 2,3 triliun itu. Jaksa juga menilai Setya belum membuka pelaku besar lain perkara e-KTP dan belum mengembalikan seluruh hasil kejahatannya.

Selengkapnya dapat dibaca di ruang Referensi lantai 3 Gedung Perpustakaan Universitas Bengkulu.

 

MATERI WORKSHOP RDA


Materi Workshop Oleh : Suharyanto
Judul : Kebijakan Pengatalogan Berbasis Resource Description and Access (RDA)
Link Download :
KEBIJAKAN PENGATALOGAN BERBASIS RESOURCE DESCRIPTION AND ACCESS (RDA)


Materi Workshop Oleh : R. Deffi Kurniati
Judul : Pengantar Pengatalogan Berbasis Resource Description and Access (RDA)
Link Download :
PENGANTAR PENGATALOGAN BERBASISPENGANTAR PENGATALOGAN BERBASIS RESOURCE DESCRIPTION AND ACCESS (RDA)


Materi Workshop Oleh : Yus Yusuf Rangga W., SS
Judul : Praktik Pengatalogan RDA dan Tahapan-tahapannya
Link Download :
Workshop Pengatalogan Berbasis RDA

SEMINAR NASIONAL DAN WORKSHOP UPT. PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS BENGKULU

Kegiatan dies natalis Universitas Bengkulu merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan oleh UPT Perpustakaan Universitas Bengkulu tahun 2018 seperti Seminar Nasional dan Workshop dengan tema “Menulis Cerdas Tanpa Plagiasi di Era Digital”. Kegiatan ini dilaksanakan pada kamis (19/4/2018) bertempat di Nala Hotel Pantai Panjang, Bengkulu.

Kegiatan ini merupakan langkah bagi perpustakaan dalam mengantisipasi bagi sivitas akademika Universitas Bengkulu dalam membuat sebuah karya ilmiah baik itu skripsi, tesis, disertasi dan juga artikel yang akan dipublikasikan di jurnal-jurnal online. Dapat dilihat dari jumlah pendaftar yang mengikuti kegiatan ini sebanyak 230 peserta terdiri dari mahasiswa, dosen, peneliti, pustakawan, dan bahkan guru yang berasal dari Provinsi Bengkulu dan bahkan dari luar Provinsi Bengkulu.

Seminar Nasional dan Workshop perpustakaan ini menghadirkan tiga narasumber : Dr. Ida Fajar Priyanto, MA dari Perpustakaan UGM dengan materi Plagiarisme, Etika, dan Kepatutan Akademik, Hardivizon, M.Ag dari STAIN Curup dengan materi Menulis Artikel Ilmiah Bebas Plagiasi, serta narasumber workshop Amirul Ulum, S.Sos, M.IP dari Perpustakaan Universitas Surabaya (UBAYA) dengan materi Menghindari Plagiat di Era Digital dan praktek menggunakan aplikasi untuk mengecek tingkat kesamaan hasil karya ilmiah.

Kegiatan seminar nasional dan workshop dibuka langsung oleh Rektor UNIB, dan tampak hadir  Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kepala UPT. Kerjasama Luar Negeri (KSLI) Universitas Bengkulu dan juga Kepala Perpustakaan Selingkung Provinsi Bengkulu.


Pemustaka malam hari di perpustakaan

Acara diawali sambutan Kepala UPT Perpustakaan Universitas Bengkulu Dr. Alex Abdu Chalik, M.Si.  menyampaikan bagaimana kondisi Perpustakaan Universitas Bengkulu saat ini dan harapan akan perkembangan perpustakaan kedepan. Kepala Perpustakaan UNIB Berharap Perpustakaan dapat menambah jam layanan hingga malam hari karena dilihat dari hasil survei dilapangan secara spontan, ternyata pemustaka cukup banyak yang memanfaatkan fasilitas Perpustakaan seperti wifi hotspot untuk mengerjakan tugas-tugas perkuliahan.

Sambutan dari Rektor Universitas Bengkulu Dr. Ridwan Nurazi, M.Sc sekaligus membuka acara Seminar Nasional dan Workshop perpustakaan secara resmi. Dalam sambutannya Rektor UNIB menyampaikan bahwa menulis harus diiringi dengan banyak membaca karena minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah. Dengan adanya Kegiatan Seminar Nasional dan Workshop ini diharapkan dapat meningkatkan minat baca dan menulis masyarakat Indonesia, terkhusus bagi minat baca dan menulis pemustaka perpustakaan Universitas Bengkulu, ujarnya.

Sambung Rektor, guna memenuhi kebutuhan jam layanan bagi pemustaka perpustakaan Universitas Bengkulu, maka akan ditambah jam layanan perpustakaan Universitas Bengkulu hingga malam hari. Selain itu akan dibangun fasilitas-fasilitas pendukung seperti foodcourt agar pemustaka semakin tertarik dan betah berada di perpustakaan.

  

Kegiatan dilanjutkan dengan penandatangan MoU dengan 7 perpustakaan  yang  berada di selingkung Provinsi Bengkulu dan satu dari luar Provinsi Bengkulu. Kerjsama perpustakaan ini yaitu terdiri dari Perpustakaan Universitas Surabaya (UBAYA), Perpustakaan STAIN Curup, Perpustakaan IAIN Bengkulu, Perpustakaan Dinas dan Kearsipan Provinsi Bengkulu, Perpustakaan Poltekkes Kemenkes Provinsi Bengkulu, Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Bengkulu, dan Perpustakaan Dinas dan Kearsipan Kota Bengkulu. Penandatanganan MoU ini disaksikan langsung oleh Rektor UNIB, Kepala UPT Kerjasama Luar Negeri Universitas Bengkulu juga Wakil Rektor Bidang Kemahasiswan Universitas Bengkulu.

Materi pertama Seminar dan Workshop di sampaikan Dr. Ida Fajar Priyatno, MA. Menulis tanpa membaca itu sangat sulit dan menulis itu lebih sedikit dari berbicara. Plagiarisme itu dapat dibagi menjadi empat yakni direct plagiarism, self plagiarism, mosaic plagiarism dan accidental plagiarism. Selain itu karya dan penelitian bangsa Indonesia yang masuk dalam publikasi ilmiah di jurnal terpublikasi internasional jumlahnya masih rendah, jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga terlebih lagi jika dibandingkan dengan Korea Selatan, China, Jepang dan India kata Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D, Ujarnya.

Hardivizon, M.Ag, menjelaskan bahwa  masyarakat Indonesia harus lebih meningkatkan minat baca dan menulis. Menulis agar tidak dibilang plagiat maka menulis harus mencantumkan sumber aslinya atau daftar pustakanya.

Workshop dari Amirul Ulum, S.Sos, M.IP merupakan penutup kegiatan Seminar Nasional dan Workshop. Pemaparannya berkutik pada trik untuk menghindari dari plagiarism dengan adanya gerakan “AkSaRa” artinya Akui ParafraSa IntegRasi. Workshop ini dilakukan dengan menggunakan aplikasi “turnitin” dengan proses bagaimana menggunakan dan melakukan pengecekan sebuah hasil karya ilmiah untuk melihat tingkat persentase plagiat yang ada pada sebuah hasil karya ilmiah.

  

Acara Seminar Nasional dan Workshop ini ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta, panitia dengan narasumber./by.septi

MATERI SEMINAR NASIONAL DAN WORKSHOP

Materi : Plagiarisme, Etika, dan Kepatutan Akademik
Pemateri : Dr. Ida Fajar Priyanto, MA
(Universitas Gadjah Mada Yogyakarta)
Materi seminar dapat di unduh melalui link
Plagiarisme (Dr. Ida Fajar Priyanto, MA)

Materi : Menulis Artikel Ilmiah Bebas Plagiasi
Pemateri : Hardivizon, M.Ag
Materi seminar dapat di unduh melalui link
[hardivizon] plagiarisme

 

Materi : Menghindari Plagiat di Era Digital
Pemateri : Amirul Ulum, S.Sos, M.IP
Silakan untuk mengunduh materi narasumber Bapak Amirul Ulum melalui link dibawah ini
Workshop Plagiarism_UNIB_190418

MAJALAH PARLEMENTARIA

EDISI 157 TH. XLVIII 2018
Parlementaria
edisi 157 ini menyoroti antisipasi politik uang dan kampanye hitam (black campaign) dengan berharap, kontestasi demokrasi akan berjalan pada treknya, pemilu atau pemilu kepala daerah serentak yang jurdil dan bersih. Dengan demikian pesta demokrasi tersebut menghasilkan pemimpin yang bersih, amanah, berintegrasi sehingga mampu membawa masyarakat makin makmur dan sejahtera. Laporan utama edisi ini berisikan topik Potensi Politik Uang Selalu Ada. Menurut Wakil Ketua DPR Fadli Zon “Potensi politik uang selalu ada dengan memanfaatkan kelemahan dari konstituen dengan mengadakan atau menjanjikan atau memberikan uang”. Dengan kultur masyarakat yang lemah akan kesadaran politik, tentunya dapat dengan mudah dipengaruhi oleh uang dalam memilih calon tertentu. Hampir setiap pemberitaan selalu menampilkan kabar kurang baik mengenai perjalanan demokrasi yang membuat proses gugatan pasca pemilu selalu menumpuk di Mahkamah Konstitusi, salah satu yang menjadi gugatan adalah praktek politik uang yang dianggap sebagian besar pihak menilai hasil pemilu menjadi inkonstitutional.

Berbagai langkah telah disiapkan termasuk regulasi untuk memberantas politik uang. Sebab pada dasarnya politik uang mencederai demokrasi. Upaya penegakan hukum untuk melepaskan pilkada dari jerat politik uang harus lebih solid dan terkoordinasi antar aktor-aktor negara yang memegang otoritas.

Baca edisi ini di Ruang Referensi Perpustakaan Universitas Bengkulu.